![]() |
Rumah Teleskop Zeiss |
Lagi-lagi ke
Bandung, ke Bandung lagi-lagi. Kalau di waktu sebelumnya Bandung selatan yang
menjadi tujuan, maka kali ini saya geser ke utara. Lembang. Tujuan pertama
adalah Observatorium Bosscha. Awalnya sih dulu tahu ada teropong ini di
pelajaran IPS waktu SD. Itu pun cuma lihat gambarnya saja. Baru di film
petualangan Sherina bisa lihat bentuknya seperti apa, walaupun di TV tapi
paling tidak sudah lihat bentuk aslinya.
Akses untuk
menuju lokasi observatorium ini sangat gampang. Waktu itu saya berangkat dari
daerah Kiaracondong. Saya menggunakan angkot jurusan Margahayu-Ledeng (warna
biru garis kuning, bentuknya mikrolet) lalu turun di Universitas Pendidikan
Indonesia (UPI) atau di depan terminal Ledeng, ongkosnya kemarin 7 ribu satu
orang, lanjut dengan angkot Stasiun Hall-Lembang (warna coklat muda), tinggal
bilang ke bapak sopirnya turun di Bosscha cukup bayar 5 ribu. Turun dari angkot
bisa lanjut naik ojek atau jalan kaki. Lumayan sih kalau jalan kaki, sekitar
1.5 km. Kalau naik ojek mungkin 10 ribu. Karena sedang tidak buru-buru, sekaligus
olahraga (baca : menghemat) saya memilih jalan kaki.
![]() |
jalan menuju observatorium Bosscha |
Observatorium
ini memiliki jadwal buka yaitu hari Selasa-Jumat untuk kunjungan
kelompok/instansi/sekolah, sedangkan hari Sabtu khusus untuk perorangan/umum.
Minggu-Senin dan hari libur nasional tutup. Jam operasionalnya mulai dari jam
09.00 sampai jam 14.30 pada hari Selasa-jumat dan sampai jam 13.00 pada hari
Sabtu. Untung saja saya baca-baca
dulu di internet, jadi bisa tahu jadwal untuk kunjungannya. Kan rugi kalau
sudah sampai sana ternyata nggak bisa masuk karena salah jadwal.
Sampai di tempat
tujuan saya diarahkan ke sebuah tempat untuk melapor (membeli tiket) oleh pak
satpam yang berjaga di depan. Harga tiketnya satu orang 15 ribu. Karena tiba di lokasi masih jam 9.15 dan sesi pertama dimulai jam 9.30, 15 menit saya pakai
untuk foto-foto sebelum pintu masuk ke Kupel
tempat teleskop Zeiss berada dibuka. Di dalam Kupel ada petugas yang
memberikan penjelasan mengenai seluk
beluk observatorium Bosscha. Saya sarankan jangan terlambat untuk ikut, karena
banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan di sesi ini. Biar nggak cuma pepotoan aja donk.
Kawasan yang
memiliki luas sekitar 8 ha ini mulai
dibangun pada tahun 1923 dan selesai 5 tahun kemudian dengan menghabiskan dana
sekitar 1 juta Gulden. Nama Bosscha
sendiri diambil dari nama seorang berkebangsaan Belanda yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha, beliau
adalah pemilik kebun teh terluas di Jawa Barat pada masanya. Observatorium ini
awalnya dibangun karena Bosscha teringat akan impian masa kecil bersama
kakeknya yang ingin membangun sebuah tempat pendidikan. Diperkuat oleh seorang
astronom kelahiran Madiun yang juga temannya, Joan George Erardus
Gijsbertus Voute yang berkeinginan di Indonesia (dulu Hindia Belanda)
memiliki observatorium dikarenakan posisi Indonesia yang strategis untuk
pelakukan pengamatan/penelitiann karena dilewati garis khatulistiwa, maka dibangunlah observatorium ini. Awalnya
Voute melakukan penelitian di Afrika Selatan.
Observatorium
yang kini menjadi bagian dari ITB ini memiliki beberapa teleskop. Setiap
teleskop memiliki nama tersendiri, diantaranya Unitron, Bamberg, Goto, teleskop radio, Schmidt Bima Sakti, dan yang terbesar dan dikenal banyak orang
adalah teleskop yang berada di dalam kubah /Kupel.
Orang awam sering menyebutnya teropong Bosscha, padahal nama sebenarnya adalah Zeiss.
![]() |
Teleskop Unitron dan Goto (kiri-kanan) |
![]() |
teleskop radio |
Teleskop Zeiss ini didatangkan dari Jerman,
pabrik lensanya masih satu perusahaan dengan Optik terkenal itu. Teleskop
terbesar di Indonesia ini memliki diameter 60 cm dengan panjang fokus 10 m.
Teleskop ini digunakan untuk mengamati
bintang ganda, dan sampai sekarang masih berfungsi dengan baik. Kubah yang
memayungi teleskop ini terbuat dari baja dan dapat terbuka dan diputar 360
derajat dengan tenaga listrik. Beratnya lebih dari 56 ton dengan diameter 14.5
meter. Untuk mampu menggerakkan benda seberat itu diperlukan listrik sebesar
1500 watt. Karena itu juga PLN di daerah ini tidak bisa main matikan listrik
begitu saja. PLN harus ada pemberitahuan sebelum mematikan jaringan listrik di
daerah Observatorium ini.
![]() |
teleskop Zeiss |
Walaupun teleskop-teleskop yang ada masih bisa bekerja dengan baik, bukan
berarti Observatorium Bosscha tidak memiliki kendala. Kendala yang ada justru
datang dari luar. Yaitu semakin padat dan banyaknya pemukiman, hotel, dan
tempat wisata yang ada di Bandung, Lembang khususnya, membuat polusi cahaya
semakin besar. Padahal untuk melakukan pengamatan diperlukan cahaya yang sangat
minim. Cahaya yang semakin banyak justru mengganggu pengamatan. Untuk ini
sekarang sedang dibangun lagi observatorium yang berlokasi di Kupang Nusa
Tenggara Timur. Nantinya teleskop yang ada di sana dikendalikan dari Bosscha.
Tentunya teleskopnya akan lebih besar dari teleskop Zeiss.
![]() |
kubah mulai dibuka |
![]() |
lantai kupel yang bisa dinaik/turunkan |
Selesai dari
Kupel pengunjung diminta untuk menuju ruang multimedia yang berada di sebelah
toko souvenir. Di sana kita akan diputarkan video tentang astronomi. Selanjutnya
kalau mau masih lanjut foto-foto atau belanja souvenir juga bisa. Kalau yang
mau langsung pulang juga bisa, akang-akang
ojek sudah menunggu untuk mengantar ke bawah
menuju jalan raya. Namun, lagi-lagi karena ingin menikmati suasana jalan
menuju observatorium yang sejuk dan rindang ini (baca : berhemat) saya memilih
untuk jalan kaki lagi untuk menuju jalan raya. Enaknya dari Bosscha kemana lagi
ya?
NB : Sebelumnya diunggah di Kompasiana
Dari dulu aku pengeen banget ke sini, sayang masih belum kesampaian. Vote Informatif & Menarik :)
BalasHapussama mas....aku juga baru kesampaian kemarin itu. hihi..kalau kesana pastikan nggak salah jadwal yak ;)
Hapus