Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Oktober 2016

Hujan yang Membawa Pulang Ibu

brilio.net


Sebagian besar orang akan terseret ke masa lalu ketika hujan mulai datang. Menata kepingan puzzle demi puzzle kenangan yang berserakan. Membentuk cerita yang mungkin ingin dilupakan namun tetap saja hadir kembali ketika hujan kembali turun. Berbeda denganku, ada harapan yang bersemi setiap kali hujan turun.

“Rin, kamu masih mau di sini?” Aku mengangguk ketika temanku memutuskan untuk pulang setelah mendapat telepon dari suaminya lima menit yang lalu.

Tempat ini, aku masih ingat betul ketika seorang perempuan mengantarkanku ke tempat ini. Hari Minggu, setelah adzan ashar, aku dan dia sampai di tempat ini. Tempat yang akhirnya menjadi rumahku selama 12 tahun. Berhubung tempat kerjaku lumayan jauh dari sini, aku memilih untuk kost. “pulang” ke sini setiap hari Minggu saja.  

Kamis, 17 Maret 2016

Dinding Dinding Rindu

unsplash.com

terdiam di sudut sepi ketika sapamu tak ku temui beranjak menuju senja untuk terus mencari tetap tak ku temui hingga akhirnya senyummu mampir dalam mimpi sekejap mata rindu terobati

Senin, 26 Oktober 2015

[FF200] Kado yang Tertunda



“Hah, kamu itu nggak romantis.”

Kamu terduduk dengan wajah yang kamu palingkan dariku. Aku tertawa kecil melihat ekspresi marahmu yang menurutku malah membuat wajahmu terlihat menggemaskan. Hal kecil, aku yang tertidur pulas tak menghiraukan telpon darimu.

“Sudahlah, jangan marah. Iya, aku nggak romantis. Kan kamu katanya yang romantis.”
“Kan kalau semalam momennya dapet. Apalagi pas jam 12 teng”

Selasa, 20 Oktober 2015

Kamu Masih Cengeng




“Kamu cengeng”
“Bajuku…pasti Ibu marah kalau lihat bajuku seperti ini.” Kamu terisak mengusap baju terkena lumpur yang justru membuat semakin kotor.
Baju warna merah jambu yang kamu pakai tidak sengaja terciprat lumpur karena bola yang ku tendang masuk ke kubangan.  Aku menggegam tanganmu mengantarmu pulang sementara kamu masih terus terisak.

Senin, 12 Oktober 2015

[FF200] Sehijau Kenangan


Risa tersenyum melihat kesibukan suaminya mengecat kamar untuk anak pertama mereka. Wajahnya belepotan cat. Risa mengamati di dekat pintu sambil duduk. Kamar itu dicat warna hijau muda, Risa memang suka warna hijau. Sesuai hasil USG dokter, anak mereka berjenis kelamin perempuan. Jika sesuai dengan jadwal, anak mereka akan lahir sepuluh hari lagi.

“Beres…Gimana ?” Risa mengacungkan dua jempol seraya tersenyum melihat hasil kerja suaminya.

“Besok kita tinggal menata box bayinya. Juga perlengkapan lain.” Risa berdiri memandang sekeliling kamar merancang bagaimana akan menata kamar bayi mereka itu.
_

Senin, 05 Oktober 2015

[FF100] Amplop Impian

























ilustrasi : amplop


Dede pulang dengan membawa satu amplop yang diberikan gurunya. Senyum menghiasi bibirnya sepanjang jalan. Tak sabar memberikan amplop untuk sang  ayah. Hari ini rupanya Ayah masuk shift malam. Itu berarti dede bisa segera memberikan amplop itu.

“Yah, ada sesuatu untuk ayah.” Dede dengan raut gembira melambaikan amplop di tangan kanannya.
“Dede bawa apa?.”
_

Dede sangat suka bulutangkis. Harapannya bisa masuk klub di kota sebelah yang terkenal menjadi klub yang menghasilkan banyak pemain hebat. Kemarin Dede diberikan kesempatan untuk ikut audisi yang dilakukan klub impiannya.
Hari ini Ayah menerima gaji, tetapi itu gaji terakhirnya.
“Apa impian Dede juga harus berakhir?”



Senin, 28 September 2015

Lelaki dan Kotak Rahasia


Lelaki itu mengayunkan langkahnya
Setapak demi setapak meniti angka dunia
Menyusur rute yang terus ia cari tujuannya

Rabu, 01 Juli 2015

Dua Musim


Waktu itu sudah lepas dari pagi namun matahari belum terlalu terik. Musim kemarau sudah separuh perjalanan. Aku berdiri diantara kerumunan orang, sibuk dengan duniaku. Lalu entah kau berjalan dari mana, kau berhenti tepat di depanku. Mengulurkan tanganmu. Tak ada satu kata yang kau ucapkan. Bingung. Apa yang kau inginkan waktu itu.

“Hei, salam kenal saya Adisty.” Ucapku setelah menerima uluran tanganmu.
“Terima kasih, salam kenal juga. Saya Raka.” Lengkungan bibir nampak di wajahmu. Tersenyum.

Selasa, 09 Juni 2015

Yang Tak Mampu Terbungkus Rapi


http://favim.com/

Musim hujan belum pulang. Masih saja datang membawa angin, guntur dan tentunya tumpahan air. Seakan dia tahu, suasana seperti ini lah yang cocok untukku melewati malam kali ini.
Kenapa aku merasa dalam suasana perang malah. Iya, aku seperti seorang yang ingin mempertahankan apa yang aku miliki. Agar tak dijajah. Agar tetap menjadi milikku.

Jumat, 29 Mei 2015

Skakmat

http://www.businessdanmark.dk/

“Tuh liat, tumben dia baru pulang jam segini.” Marni yang selesai menyapu lalu menghampiri Tinah, memanyunkan bibirnya menunjuk Mia yang baru pulang. 
“Baru pulang Mi? Kelarisan kayaknya semalam ya?” sapa Tinah pada Mia dengan nada sinis.
“Saya masuk dulu mbak, mari.” Mia hanya menanggapi dengan senyum. Sudah terbiasa bahkan sudah kebal dirinya melihat kelakuan tetangga kontrakannya itu.

Direbahkan badannya di kasur yang ia beli dua yang tahun yang lalu, ketika ia nekat datang ke kota ini untuk mengubah nasibnya. Bedak tebal dan lipstik merah masih menempel di wajahnya. Tak berapa lama ia pun tertidur.

Jumat, 15 Mei 2015

Obrolan di Gazebo




“Permisi Kek, boleh saya temani duduk di sini ?”
Kakek itu tersenyum sembari tangannya mempersilahkan Dimas duduk. Udara sejuk pagi itu, hujan semalam membuat daun-daun di taman ini basah.

“Kamu sedang apa di sini? Masuk lah”
“Cari angin saja Kek, Kakek kenapa di luar ?”

Lelaki tujuh puluhan tahun itu diam saja. Angin sejuk menyusup gazebo kecil yang berada di tengah taman rumah sakit itu. Lalu lalang kesibukkan perawat dan dokter yang menangani pasien terlihat di lorong. Beberapa orang yang hendak menjenguk sanak keluarga yang dirawat. Ada pula yang terisak menangis. Pemandangan yang tak mengenakkan mata.

Selasa, 28 April 2015

Kamis, 19 Maret 2015

Gadis Berpayung



Malam ini hujan deras mengguyur kota di ujung selatan. Jalanan masih ramai dengan kendaraan yang melambatkan lajunya. Emperan toko yang telah tutup dihiasi pengendara motor yang menepi untuk berteduh. Di atas sana kilatan cahaya membentuk akar-akar langit disusul gelegar suara. Nampaknya hujan akan berlangsung lama.

Senin, 16 Maret 2015

Emak dan Tahun Baru Mereka



 ilustrasi : firework

Kalender di bilik rumahku besok sudah harus diganti.
“Besok emak berangkat lebih awal?”
“Iya, kaya biasanya. Kamu jaga rumah ya.”
Aku mengangguk. 

Selasa, 10 Maret 2015

Pendusta Jelita


Senyum adalah kekuatannya
Senyum adalah pilihannya
Senyum adalah tempatnya bersembunyi



Jarum pendek jam menunjuk ke angka sembilan, sedang jarum panjang telah beralih ke angka empat. Kamu keluar dari bangunan itu. Dulunya bangunan itu adalah sebuah rumah kemudian setelah pemiliknya pindah ke luar kota, dijadikan sebuah kantor, dan setelah beberapa bulan kosong, lalu berubah menjadi sebuah toko buku. Dengan cat warna merah menyala, bangunan itu tampak menyolok di pojokkan pertigaan jalan. Tepat di depan adalah sebuah factory outlet yang selalu ramai dikunjungi. Toko buku itu tidak terlalu besar, bangunannya jika dari depan justru tampak seperti rumah biasa. Halaman yang digunakan untuk tempat parkir pun tidak terlalu luas, jadi terkadang mobil harus parkir di pinggir jalan jika parkir sudah penuh.

Kamis, 05 Maret 2015

Kolaborasa

ilustrasi : ini

Rindu adalah jarak antara kau dan aku

Senja belum lama tumbang ketika Hita bersenandung lirih di kamarnya. Satu lagu yang sering diputar untuk menemani payahnya raga setiap malam menjelang. Matanya masih terlampau jauh dari kata “kantuk”. Angin malam menerobos lewat celah kecil jendela yang sengaja tak ditutupnya rapat. Jari-jemarinya sedang asik menekan tuts-tuts keyboard laptop yang  menyala. Melarutkan diri dalam rentetan kata yang ia susun untuk sebuah cerita.

Jumat, 27 Februari 2015

Cerita Sederhana Untukmu

Selamat pagi untuk kau yang berhasil membuatku merasakan kembali cinta, mau kah kau membaca ceritaku ini, sebentar saja ?



Pagi ini cuaca cerah sekali, langit membiru diselingi gumpalan-gumpalan awan putih. Awal yang indah untuk mewujudkan mimpi-mimpi semalam. Perkenalan kita memang belum lama dan awalnya aku berpikir semua akan menjadi biasa saja. Hingga aku merasa sesuatu ada yang tidak beres dalam diriku, sesuatu yang “salah”, tapi aku justru menyukainya. Lalu masihkah kau ingin tahu cerita ku ini?

Sabtu, 21 Februari 2015

[Meltrick Icetic] Melangkah Menuju Mu



ilustrasi : di sini

Dengan langkah seribu Riri menuju salah satu Angkringan yang populer di kota ini. Angkringan Kang Harjo, perutnya sudah keroncongan. Kegiatan di kampus hari ini membuatnya melewatkan makan siangnya. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Angkringan itu sudah ramai.

Senin, 16 Februari 2015

[Meltrick Icetic] Awal dari Semua

ilustrasi : start 

Waktu itu Diana mengadakan acara untuk merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan belas. Beberapa teman kuliah diundang temasuk Riri yang memang sahabat dari SMA. Cumi adalah teman kuliah kakak Diana, Dedy. Acara mulai sekitar pukul tujuh malam, tidak terlalu mewah. Hanya acara tiup lilin dan makan malam bersama saja.

Sabtu, 14 Februari 2015

Ketika Rasa Datang tanpa Rupa

ilustrasi : topeng

Selamat pagi. Hari Senin, artinya harus semangat full untuk lima hari ke depan. Kesibukan akan menjauhkanku dari rasa sepi. Di sela menyelesaikan pekerjaan yang membuat ngos-ngosan karena selalu dikejar deadline, aku menyempatkan menyapa teman-temanku di social media. Social media adalah salah satu caraku untuk “kabur” sebentar dari deadline yang mencekik itu.