Senin, 16 Maret 2015

Emak dan Tahun Baru Mereka



 ilustrasi : firework

Kalender di bilik rumahku besok sudah harus diganti.
“Besok emak berangkat lebih awal?”
“Iya, kaya biasanya. Kamu jaga rumah ya.”
Aku mengangguk. 
Emak baru pulang pukul lima lebih dua puluh menit. Setengah jam yang lalu. Duduk selonjor di depan tivi sambil memijit kedua kakinya. Sementara aku sibuk di dapur,  memasak air guna emak mandi karena cuaca di luar sedang hujan.

Aku duduk di depan rumah, depan rumahku masih berupa tanah kosong, kata emak tanah ini milik pak Haji yang tinggal di rumah dengan dua lantai  di ujung gang depan. Dari sini aku bisa melihat lampu sorot, ada yang berwarna kemerahan dan kebiruan. Bergerak-gerak ke kanan dan kiri. Menyorot  langit kota malam ini. Hujan sudah reda dua puluh menit yang lalu. Pasti sudah banyak orang berkumpul di sana. Di mana orang akan bersuka cita sampai tengah malam nanti.

Tepat pukul dua belas, suara ledakan demi ledakan di langit memenuhi malam. Aku masih duduk di depan rumah. Melihat kembang api bermacam warna menghujam langit. Hanya lima menit aku melihatnya.
“Kegembiraan kalian membuat emakku harus berangkat lebih pagi untuk menyapu sampah yang kalian tinggalkan.” gumamku

 Aku masuk dan mengunci pintu rumah.



*Note : Cermin ini pernah diikutkan dalam event Tahun Baru Fiksiana Community dan Gaganawati Stegman

6 komentar: