Kamis, 05 Maret 2015

Kolaborasa

ilustrasi : ini

Rindu adalah jarak antara kau dan aku

Senja belum lama tumbang ketika Hita bersenandung lirih di kamarnya. Satu lagu yang sering diputar untuk menemani payahnya raga setiap malam menjelang. Matanya masih terlampau jauh dari kata “kantuk”. Angin malam menerobos lewat celah kecil jendela yang sengaja tak ditutupnya rapat. Jari-jemarinya sedang asik menekan tuts-tuts keyboard laptop yang  menyala. Melarutkan diri dalam rentetan kata yang ia susun untuk sebuah cerita.

Rindu adalah pengikat antara kau dan aku

Jarinya berhenti tatkala satu nada berbunyi , ditengoknya sumber suara – handphone,  yang sedari tadi tergeletak di atas tempat tidur. Muncul di layar satu nama yang telah ia nanti sedari tadi. Senyum terkembang menghias pipi. Salam terdengar sepersekian detik setelah tombol hijau digeser ke kanan. Langkahnya pelan menuju sudut favorit melepas gulana. Teras rumah menghadap utara.

Rindu adalah jeda antara suara dan rupa

Tumpahlah semua rasa di sana. Terselip canda juga tawa. Pengobat rasa yang membuncah di dada.  Ketika rindu tak mampu tersampai oleh rupa, kemudian menjelma menjadi jeda dengan suara. Tak henti kata terucap - perwujudan rasa. Ditemani langit malam meski tanpa kerlip bintang di sana. Suara di seberang telah mampu membuat Hita lebih dari sekedar tersenyum.



ilustrasi :ini

Rindu adalah pemberi makna, seperti spasi antar kata

Bukan salah waktu yang menjadi penutup malam. Masih ada esok dan esok, serta esok setelahnya. Hita kembali ke kamar, melanjutkan tarian jemari di atas tuts hitam. Sesak di dada terobati meskipun tak sempurna. Atau malah semakin menggunung ketika surya kembali menyapa di hari baru esok. Menunggu saat senyuman itu mampu tertangkap oleh mata. 

Rindu adalah ikhtiar dalam diam

Hita mencoba memejamkan mata ketika jam mulai bergeser-berganti hari. Tergambar dalam angan, sosok pengisi hati. Berjuang sendiri menggapai cita jauh di sana. Terucap dalam hati segala doa untuknya. Keteguhan  menjaga rasa yang telah tumbuh di hatinya. Ia pun terlelap dalam selimut malam.

Rindu adalah seperti mendung di pagi hari

Hari telah berganti, gulita malam telah berlalu. Hari harus tetap berjalan, begitu juga dengan Hita. Mengubah gunungan rindu menjadi semangat, meskipun mendung menggelayut. Tapi apa daya, semua itu tak lah cukup kuat untuk merusak harinya, kala sebuah sapa pagi ia terima.

Boleh jadi hari ini mendung, membendung rasa rindu yang urung tersampaikan. Hanya satu pintaku di pagi hari ini, Tuhan..tolong lindungi dia yang telah menitipkan separuh hatinya padaku, hingga suatu hari nanti kelak aku bisa mengembalikannya secara utuh dalam sebuah ikatan yang bernama CINTA
Wahai belahan jiwa jika suatu saat kita bersua, ijinkanlah aku untuk menggenggam jemarimu melewati segala halang rintangan berdua menuju garis akhir ceria.


Apa itu rindu? Banyak kata untuk memaknai nya, karena rindu adalah kolaborasa. 

6 komentar:

  1. Cuaca mudah2an cerah,... secerah senyum mbak Septi,... hehehehehe. *godainyangcantikduluah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha...iya mbak cuacanya cerah bikin gerah :D

      makasih mampirnya mbak

      Hapus